TAMAN SPIRITUAL
Bismillahir Rahmanir Rahim.
Di
dalam makalah “Menghidupkan Keindahan”, saya Cuma ingatkan kita sedang bicara
tentang the practice of beauty—bagaimana kita melaksanakan keindahan
dalam kehidupan kita. Untuk menghidupkan keindahan ini, kita harus paham bahwa
sebenarnya keindahan adalah bagian dari suluk. Ia bukan sekadar
aksesoris suluk, tapi ia adalah elemen esensial suluk. Apalagi di
zaman sekarang, ketika kita dikelilingi dengan berbagai penampilan dan bentuk
yang sangat tidak mendukung spiritualitas kita. Suasana yang membuat kita
menjadi “sesak” spiritual sehingga kita harus mencari tempat, dan sebagainya,
untuk mendapatkan suasana spiritual itu. Sekali lagi saya ingatkan the
practice of beauty adalah elemen yang sangat esensial dalam perjalanan
spiritual.
Esensialitasnya itu bukan karena ia benar-benar substansial, tetapi karena suasana telah membuatnya menjadi elemen esensial, dengan kata lain ia esensialitasnya bersifat relatif, tidak absolut. Ajaran tentang ketuhanan itu merupakan hal esensial dalam kehidupan esensial. Begitupula dengan prayer dan virtues. Sedangkan beauty is relatively essential atau conditionally essential karena kondisi zaman ini telah membuat keindahan sebagai suatu hal yang sangat penting dalam perjalan spiritual. Kita harus menghidupkan keindahan dalam kehidupan kita, baik secara individual, dari tubuh, pakaian, gerak, suasana bahkan hingga nuansa rumah dan lingkungan sekitar kita.
Esensialitasnya itu bukan karena ia benar-benar substansial, tetapi karena suasana telah membuatnya menjadi elemen esensial, dengan kata lain ia esensialitasnya bersifat relatif, tidak absolut. Ajaran tentang ketuhanan itu merupakan hal esensial dalam kehidupan esensial. Begitupula dengan prayer dan virtues. Sedangkan beauty is relatively essential atau conditionally essential karena kondisi zaman ini telah membuat keindahan sebagai suatu hal yang sangat penting dalam perjalan spiritual. Kita harus menghidupkan keindahan dalam kehidupan kita, baik secara individual, dari tubuh, pakaian, gerak, suasana bahkan hingga nuansa rumah dan lingkungan sekitar kita.
Di
halaman sebelumnya, kita membicarakan keindahan mulai dari tubuh, (tubuh
memiliki dua aspek: statis dan dinamis [gerak]. Kita tidak bisa membuat banyak
perubahan pada yang statis, tetapi yang penting adalah aspek gerak karena tubuh
kita banyak melakukan gerakan: aktivitas sehari-hari, ini termasuk keindahan
yang berkaitan dengan movement dan gesture. Ini sudah kita
bahaskan pada pembahasan sebelumnya.), pakaian (pakaian adalah yang terdekat
dengan jiwa kita, setelah tubuh. Pakaian adalah yang pertama menghiasi tubuh,
karenanya berpakaian pun harus dengan perspektif ini. Yang saya maksud dengan
“ia harus berdasarkan perspektif ini” adalah ia harus didasarkan pada Tuhan: we
get dressed in the light of God. Setelah “melihat” Tuhan, baru kita
menghias tubuh kita. Dengan kata lain, Tuhan menjadi pusat keberadaan kita,
pusat perasaan kita dan pusat tindakan kita. Dalam bahasa religius, “Tuhan
menjadi pusat” sering diekspresikan dengan lillahi ta’ala[1].
Kualitas pakaian yang kita pakai harus berkaitan dengan kesadaran kita kepada
Tuhan. Ia bisa tampil dalam bentuk apapun. Ketika kita melihat budaya Cina,
Indian, Jawa, Sunda dan lainnyaa, masing-masing memiliki ekspresi yang
berbeda-beda. Namun, semuanya memiliki karakter divine. Misalnya,
ekspresi kehadiran Tuhan pada pakaian orang Arab tidak sama dengan ekspresi
orang Jawa. Pakaian orang Arab itu kan panjang-panjang, sedangkan orang Jawa
itu yang panjang sarungnya aja kan? Yang pasti, semuanya memberikan kesadaran
vertikal. Bagian ini juga kita sudah
bahaskan sebelumnya.
Sekarang,
lihat halaman sepuluh. Seperti yang sudah kita ketahui, seni modern melihat art
for art sake, “seni demi seni,” bukan “seni demi Tuhan”, bukan “seni demi
manusia.” Dalam perspektif tradisional, “seni demi seni” adalah ungkapan yang
sangat, katakanlah, anti-Tuhan karena apa pun yang ada di sekitar kita harus
membawa kita menuju kepada Tuhan, harus bisa mengeluarkan potensi-potensi
Ketuhanan yang terpendam dalam diri kita. Seni tidak demi seni itu sendiri, tetapi
seni demi Tuhan. (art for God’s sake). Seni yang lillahi ta’ala. Tetapi
bukan lillahi ta’ala dalam pengertian populer: mereka melukis lillahi
ta’ala, tapi lukisannya tidak lillahi ta’ala. Niat mereka memang lillahi
ta’ala, untuk Tuhan, tetapi maksud kami bukan itu, melainkan
lukisannya itu lah yang harus tampil lillahi ta’ala. Karya seni itu
harus divine, atau pantas untuk Tuhan. Artinya, lukisan itu harus bisa
membuat kita sadar kepada Tuhan. Kadang orang mengatakan ia melukis lillahi
ta’ala, tetapi cara kerjanya sama sekali tidak bisa menunjukkan atau
menyadarkan kita kepada Tuhan, maka lukisannya pun tentu tidak bisa menyadarkan
kita kepada Tuhan. Maka Seni Sakral dalam perspektif Tradisional tidak
mendukung pernyataan art for art’s sake melainkan for God’s sake.
Karena
seni modern itu “art for art’s sake”, maka ia cenderung menekankan
individualitas dan subjektivitas, atau dengan kata lain pada seni modern bentuk-penampilan
menguasai dan mendominasi di atas substansi. Kalau dalam seni sakral, bentuk-penampilan
tidak harus dominan dari substansi, melainkan harus menunjukkan, mengarahkan,
menyadarkan kita kepada substansi. Itu perbedaan mendasarnya. Seringkali ketika
seseorang melihat lukisan, ia asyik-masyuk dengan lukisannya: “lukisannya
Wow!”. Forma lukisan telah mendominasi hingga membuatnya tidak mendapatkan
substansinya. Contoh lain, seseorang melihat suatu bangunan dari segi
arsitekturnya. Bangunannya sangat bagus, tetapi substansinya tidak ada. Jadi,
arti “form” menguasai “substance” adalah we get stuck in appearance, kita
tersangkut di penampilannya saja—penampilan yang tidak mengizinkan kita untuk
“menembus”`
[13:40]
picture
Jadi,
ketika kita bilang “pakaian”, maksudnya warna pakaian, bentuk pakaian dan
lainnya yang tidak membuat kita berhenti melihat tampilannya saja. Ketika saya
menggunakan pakaian ini, do you see God? Something wrong with you. :D
ORIGINALITY
& NOVELTY
Kekuatan
dominan dari pakaian modern, sama seperti seni modern, adalah novelty dan
originality. Dunia modern itu sangat senang dengan kata original. Bagi
dunia modern, original berarti from you yourself, sesuatu yang
baru dimunculkan oleh seseorang. Kalau tidak baru, tidak original. Padahal kata
original berarti something that flows from The Origin, sesuatu
yang berasal dari asalnya, atau tidak terputus dari asalnya. Martin Ling
mengatakan itu adalah penyalahgunaan kata yang sangat mengelirukan banyak
orang. Original berarti sesuatu yang mengalir dari Sang Asal (The Origin)—ini
yang kita sebut dengan ortodoksi. Jadi, kalau sesuatu berasal dari The
Origin, itu baru namanya original. Ketika dia original, maka
dia otentik. Kalau sesuatu tidak berasal dari The Origin, itu
berarti tidak otentik. Sesuatu yang otentik pasti memiliki efek, memberikan
suatu kesan. Misalnya: doa. Doa ini otentik, berarti doa ini original
karena berasal the Origin. Dan ketika doa itu otentik, maka doa itu
memiliki efek. Kalau doa itu tidak otentik, ia tidak memiliki efek—tentu saja
ini melibatkan jiwa kita juga. Kalau doanya sudah otentik, tapi jiwa yang
membaca doa itu belum siap, ya tetap tidak memiliki efek. Berbeda dengan kalau
jiwanya juga sudah siap, dia ngomong apa pun akan memiliki efek. Makanya
kalau orang dulu mengutuk, jadi kutukan itu. Orang dulu kan sangat percaya dengan
kutukan. Kalau orang zaman sekarang mengutuk, beribu kali pun gak jadi-jadi.
Ini bukan mitos. Ini adalah kebenaran karena memang ada kejadian seperti itu.
Orang
zaman dulu begitu, they have so much faith in the Hidden, that’s why when
their curse is very effective. Our faith today is in science. That’s the
problem in todays world.
Keyword: origin, original, authentic, effectuality
Hal
ini kita bisa gunakan pada hal lainnya. Jalan spiritual. Jalan itu memang benar
bisa membawa kita kepada Tuhan ketika ia otentik. Kalau ia otentik berarti ia
harus original, kalau ia original berarti harus berasal dari Sang Asal, Tuhan. Lihat
ini, it’s very simple metaphysic. Dunia sekarang atau modern’s mind sangat
memerhatikan novelty. Apa itu novelty? Something that of your own
creation, sesuatu yang orang lain tidak pernah buat seperti yang kita buat.
Originality.
Tetapi
kata originality dalam persepsi modern sama sekali tidak sama dengan originality
dalam perspektif tradisional. Originality adalah arketip, Sumber
Ilahiyyah, a’yan tsabitah. Dari pembahasan tentang makrokosmos, pada
inti ada ahadiyah, dari ahadiyah lahir wahidiyah, dari wahidiyah lahir
a’yan tsabitah, dari a’yan tsabitah lahir alam jabarut, dari
alam jabarut lahir alam malakut. Ini semua adalah
“pengaliran” dari atas, karenanya efektif. Semua “pengaliran” dari Tuhan itu
efektif. Tetapi ketika seorang manusia, dengan pikirannya, menciptakan seni
atau apapun, apakah efektif (memberikan efek) atau tidak? Ini pertanyaannya.
Kalau “pengaliran” dari Tuhan pasti JADI. Apakah pernah tidak jadi hujan? Kita
sering mengatakan, “oh, tidak jadi hujan” padahal memang tidak semestinya
hujan. Jadi, BUKAN tidak jadi hujan, tetapi memang TIDAK HARUS hujan.
Jadi,
Originality adalah arketip, Sumber Ilahiyyah dan berbagai esensi
yang ingin ditangkap oleh seorang seniman bumi, agar si seniman itu bisa
mengalirkan dan mengekpresikan dalam karya seni sesuai dengan peraturan dan
simbolisme tradisional.
Arketip
itu SEPERTI objek yang kita gantung. Seniman bumi mau mendapatkannya. Kalau ia
mendapatkannya, berdasarkan arketip itu ia mengalirkan dan mengekpresikannya ke
dalam bentuk lukisan, tarian, musik, apapun. Begitulah seniman tradisional,
mereka mencoba untuk menggapai arketip, dan kemudian berusaha membawa arketip
itu kepada kita dalam bentuk seni.
Peraturan
tradisional, ia tasyri’I atau
takwini? Takwini. Batu itu keras dan memang harus keras. Peraturan
tradisional itu takwini bukan tasyri’I, tetapi karena kita
bekerja di dalam framework tradisi, pasti syari’at pun terlibat juga. Itu sudah
kita bahas kan..? jadi tidak berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita
inginkan. Karena kita bekerja dalam framwork tradisi, dan karena kita muslim
maka kita bekerja dalam framework Islam. Framework itu memberi kita parameter
atau batasannya.
Pakaian
tradisional, sama seperti seni tradisional, akan berupaya untuk memperbarui
bentuk-tampilan, walau esensi dan ruh batinnya tidak akan pernah berubah.
Memperbarui: ini sebenarnya adalah satu prinsip dalam tasawuf, bahwa
setiap tajalli atau manifestasi itu adalah baru. Tidak pernah ada tajalli
yang lama. Perpetual manifestation, perpetual creation, semuanya
baru. Ini juga sudah pernah dibahas.
Ketika
mental-modern menciptakan sesuatu yang baru, misalnya pakaian baru, latest
edition. Nah, baru di dunia modern itu tidak sama dengan baru
di dalam tasawuf, karena di dalam tasawuf substansinya tetap sama, hanya
formanya saja yang berubah terus menerus.
Sebenarnya,
pakaian modern yang kita lihat di zaman ini melambangkan keberpalingan dari
batin kontemplatif manusia. Pakaian tersebut juga cenderung mengarah kepada
eksternalitas dan lahiriyah dunia kontemporer, yang sangat mengganggu titik
fokus.
Pakaian
modern adalah produk dari kesadaran yang terputus dari batin, keluar dan
berpencar pada wilayah eksternal. Dunia luar ini mengganggu kefokusan dimensi
internal yang manunggal, fokus. Ketika keluar, ia berpencar,
kesadaran terfragmentasi dan terpecah sehingga tidak fokus lagi. Kalau ke
dalam, kesadaran kita semakin terpadu.
Ini bukan bearti kita mengabaikan keragaman, justru dengan ke dalam kita
sedang mengintegrasikan keragaman.
Perubahan
dalam gaya pakaian terjadi sejajar dengan perubahan dalam gaya arsitektur pada
abad keduapuluh, sebelum munculnya bangunan-bangunan tinggi yang mencakar
langit.
Pada
saat itu, bangunan di Eropa sudah tinggi-tinggi, sedangkan di Timur Tengah
masih sama. Arsitektur Islami masih diterapkan. Perubahan di dunia Eropa
terjadi karena badai modern, yang diawali dengan Renassaince (sebenarnya
benih-benihnya sudah dimulai sejak abad keempatbelas), terlebih dahulu
melanda dunia Eropa. Setiap orang menginginkan membuat bangunan yang
tinggi-tinggi semisal Empire State building, Twin Tower di Kuala Lumpur,
Gedung Bank Indonesia di Indonesia. Ini karakter modern yang tidak sakral.
Dalam hadits Nabi pernah bilang, “tanda-tanda akhir kiamat itu ketika bangunan
tinggi-tinggi”.
Sementara
arsitektur tradisional Islami diterapkan; rumah-rumah dibangun dikelilingi
taman, menghadap ke dalam dan terbuka mengarah ke langit. Hakikat tersembunyi
arsitektur ini adalah melindungi rumah
dari segala gangguan eksternal.
Begini
kira-kira gambar rumah tradisional yang memiliki karakter Islami.
[27:32]
pakaian modern, jeans, ketidakrapihan.
[15:27]
picture
[1]
Misal: aku berteman dengan orang ini lillahi ta’ala, aku menikah dengan
si fulan lillahi ta’ala. Lillahi ta’ala ini bahasa awam. Bagi
mereka yang sadar atau yang berada dalam perjalanan spiritual, mereka
menjadikan Tuhan sebagai pusat, bukan sekadar lillahi ta’ala, tetapi
Tuhan sebagai pusat segalanya. Maka ketika berpakaian pun, Tuhan harus menjadi
pusat.
0 comments:
Post a Comment