Featured Post 7

Dunia Modern
Headlines News :
Home » » Menghidupkan Keindahan ~30.01.2013 Part 1

Menghidupkan Keindahan ~30.01.2013 Part 1

Written By Noi Butthei on Thursday, 31 January 2013 | 04:45


TAMAN SPIRITUAL

Bismillahir Rahmanir Rahim.
Di dalam makalah “Menghidupkan Keindahan”, saya Cuma ingatkan kita sedang bicara tentang the practice of beauty—bagaimana kita melaksanakan keindahan dalam kehidupan kita. Untuk menghidupkan keindahan ini, kita harus paham bahwa sebenarnya keindahan adalah bagian dari suluk. Ia bukan sekadar aksesoris suluk, tapi ia adalah elemen esensial suluk. Apalagi di zaman sekarang, ketika kita dikelilingi dengan berbagai penampilan dan bentuk yang sangat tidak mendukung spiritualitas kita. Suasana yang membuat kita menjadi “sesak” spiritual sehingga kita harus mencari tempat, dan sebagainya, untuk mendapatkan suasana spiritual itu. Sekali lagi saya ingatkan the practice of beauty adalah elemen yang sangat esensial dalam perjalanan spiritual.
Esensialitasnya itu bukan karena ia benar-benar substansial, tetapi karena suasana telah membuatnya menjadi elemen esensial, dengan kata lain ia esensialitasnya bersifat relatif, tidak absolut. Ajaran tentang ketuhanan itu merupakan hal esensial dalam kehidupan esensial. Begitupula dengan prayer dan virtues. Sedangkan beauty is relatively essential atau conditionally essential karena kondisi zaman ini telah membuat keindahan sebagai suatu hal yang sangat penting dalam perjalan spiritual. Kita harus menghidupkan keindahan dalam kehidupan kita, baik secara individual, dari tubuh, pakaian, gerak, suasana bahkan hingga nuansa rumah dan lingkungan sekitar kita.
Di halaman sebelumnya, kita membicarakan keindahan mulai dari tubuh, (tubuh memiliki dua aspek: statis dan dinamis [gerak]. Kita tidak bisa membuat banyak perubahan pada yang statis, tetapi yang penting adalah aspek gerak karena tubuh kita banyak melakukan gerakan: aktivitas sehari-hari, ini termasuk keindahan yang berkaitan dengan movement dan gesture. Ini sudah kita bahaskan pada pembahasan sebelumnya.), pakaian (pakaian adalah yang terdekat dengan jiwa kita, setelah tubuh. Pakaian adalah yang pertama menghiasi tubuh, karenanya berpakaian pun harus dengan perspektif ini. Yang saya maksud dengan “ia harus berdasarkan perspektif ini” adalah ia harus didasarkan pada Tuhan: we get dressed in the light of God. Setelah “melihat” Tuhan, baru kita menghias tubuh kita. Dengan kata lain, Tuhan menjadi pusat keberadaan kita, pusat perasaan kita dan pusat tindakan kita. Dalam bahasa religius, “Tuhan menjadi pusat” sering diekspresikan dengan lillahi ta’ala[1]. Kualitas pakaian yang kita pakai harus berkaitan dengan kesadaran kita kepada Tuhan. Ia bisa tampil dalam bentuk apapun. Ketika kita melihat budaya Cina, Indian, Jawa, Sunda dan lainnyaa, masing-masing memiliki ekspresi yang berbeda-beda. Namun, semuanya memiliki karakter divine. Misalnya, ekspresi kehadiran Tuhan pada pakaian orang Arab tidak sama dengan ekspresi orang Jawa. Pakaian orang Arab itu kan panjang-panjang, sedangkan orang Jawa itu yang panjang sarungnya aja kan? Yang pasti, semuanya memberikan kesadaran vertikal.  Bagian ini juga kita sudah bahaskan sebelumnya.
Sekarang, lihat halaman sepuluh. Seperti yang sudah kita ketahui, seni modern melihat art for art sake, “seni demi seni,” bukan “seni demi Tuhan”, bukan “seni demi manusia.” Dalam perspektif tradisional, “seni demi seni” adalah ungkapan yang sangat, katakanlah, anti-Tuhan karena apa pun yang ada di sekitar kita harus membawa kita menuju kepada Tuhan, harus bisa mengeluarkan potensi-potensi Ketuhanan yang terpendam dalam diri kita. Seni tidak demi seni itu sendiri, tetapi seni demi Tuhan. (art for God’s sake). Seni yang lillahi ta’ala. Tetapi bukan lillahi ta’ala dalam pengertian populer: mereka melukis lillahi ta’ala, tapi lukisannya tidak lillahi ta’ala. Niat mereka memang lillahi ta’ala, untuk Tuhan, tetapi maksud kami bukan itu, melainkan lukisannya itu lah yang harus tampil lillahi ta’ala. Karya seni itu harus divine, atau pantas untuk Tuhan. Artinya, lukisan itu harus bisa membuat kita sadar kepada Tuhan. Kadang orang mengatakan ia melukis lillahi ta’ala, tetapi cara kerjanya sama sekali tidak bisa menunjukkan atau menyadarkan kita kepada Tuhan, maka lukisannya pun tentu tidak bisa menyadarkan kita kepada Tuhan. Maka Seni Sakral dalam perspektif Tradisional tidak mendukung pernyataan art for art’s sake melainkan for God’s sake.
Karena seni modern itu “art for art’s sake”, maka ia cenderung menekankan individualitas dan subjektivitas, atau dengan kata lain pada seni modern bentuk-penampilan menguasai dan mendominasi di atas substansi. Kalau dalam seni sakral, bentuk-penampilan tidak harus dominan dari substansi, melainkan harus menunjukkan, mengarahkan, menyadarkan kita kepada substansi. Itu perbedaan mendasarnya. Seringkali ketika seseorang melihat lukisan, ia asyik-masyuk dengan lukisannya: “lukisannya Wow!”. Forma lukisan telah mendominasi hingga membuatnya tidak mendapatkan substansinya. Contoh lain, seseorang melihat suatu bangunan dari segi arsitekturnya. Bangunannya sangat bagus, tetapi substansinya tidak ada. Jadi, arti “form” menguasai “substance” adalah we get stuck in appearance, kita tersangkut di penampilannya saja—penampilan yang tidak mengizinkan kita untuk “menembus”`
[13:40] picture
Jadi, ketika kita bilang “pakaian”, maksudnya warna pakaian, bentuk pakaian dan lainnya yang tidak membuat kita berhenti melihat tampilannya saja. Ketika saya menggunakan pakaian ini, do you see God? Something wrong with you. :D
ORIGINALITY & NOVELTY
Kekuatan dominan dari pakaian modern, sama seperti seni modern, adalah novelty dan originality. Dunia modern itu sangat senang dengan kata original. Bagi dunia modern, original berarti from you yourself, sesuatu yang baru dimunculkan oleh seseorang. Kalau tidak baru, tidak original. Padahal kata original berarti something that flows from The Origin, sesuatu yang berasal dari asalnya, atau tidak terputus dari asalnya. Martin Ling mengatakan itu adalah penyalahgunaan kata yang sangat mengelirukan banyak orang. Original berarti sesuatu yang mengalir dari Sang Asal (The Origin)—ini yang kita sebut dengan ortodoksi. Jadi, kalau sesuatu berasal dari The Origin, itu baru namanya original. Ketika dia original, maka dia otentik. Kalau sesuatu tidak berasal dari The Origin, itu berarti tidak otentik. Sesuatu yang otentik pasti memiliki efek, memberikan suatu kesan. Misalnya: doa. Doa ini otentik, berarti doa ini original karena berasal the Origin. Dan ketika doa itu otentik, maka doa itu memiliki efek. Kalau doa itu tidak otentik, ia tidak memiliki efek—tentu saja ini melibatkan jiwa kita juga. Kalau doanya sudah otentik, tapi jiwa yang membaca doa itu belum siap, ya tetap tidak memiliki efek. Berbeda dengan kalau jiwanya juga sudah siap, dia ngomong apa pun akan memiliki efek. Makanya kalau orang dulu mengutuk, jadi kutukan itu. Orang dulu kan sangat percaya dengan kutukan. Kalau orang zaman sekarang mengutuk, beribu kali pun gak jadi-jadi. Ini bukan mitos. Ini adalah kebenaran karena memang ada kejadian seperti itu.
Orang zaman dulu begitu, they have so much faith in the Hidden, that’s why when their curse is very effective. Our faith today is in science. That’s the problem in todays world.
Keyword: origin, original, authentic, effectuality
Hal ini kita bisa gunakan pada hal lainnya. Jalan spiritual. Jalan itu memang benar bisa membawa kita kepada Tuhan ketika ia otentik. Kalau ia otentik berarti ia harus original, kalau ia original berarti harus berasal dari Sang Asal, Tuhan. Lihat ini, it’s very simple metaphysic. Dunia sekarang atau modern’s mind sangat memerhatikan novelty. Apa itu novelty? Something that of your own creation, sesuatu yang orang lain tidak pernah buat seperti yang kita buat. Originality.
Tetapi kata originality dalam persepsi modern sama sekali tidak sama dengan originality dalam perspektif tradisional. Originality adalah arketip, Sumber Ilahiyyah, a’yan tsabitah. Dari pembahasan tentang makrokosmos, pada inti ada ahadiyah, dari ahadiyah lahir wahidiyah, dari wahidiyah lahir a’yan tsabitah, dari a’yan tsabitah lahir alam jabarut, dari alam jabarut lahir alam malakut. Ini semua adalah “pengaliran” dari atas, karenanya efektif. Semua “pengaliran” dari Tuhan itu efektif. Tetapi ketika seorang manusia, dengan pikirannya, menciptakan seni atau apapun, apakah efektif (memberikan efek) atau tidak? Ini pertanyaannya. Kalau “pengaliran” dari Tuhan pasti JADI. Apakah pernah tidak jadi hujan? Kita sering mengatakan, “oh, tidak jadi hujan” padahal memang tidak semestinya hujan. Jadi, BUKAN tidak jadi hujan, tetapi memang TIDAK HARUS hujan.
Jadi, Originality adalah arketip, Sumber Ilahiyyah dan berbagai esensi yang ingin ditangkap oleh seorang seniman bumi, agar si seniman itu bisa mengalirkan dan mengekpresikan dalam karya seni sesuai dengan peraturan dan simbolisme tradisional.
Arketip itu SEPERTI objek yang kita gantung. Seniman bumi mau mendapatkannya. Kalau ia mendapatkannya, berdasarkan arketip itu ia mengalirkan dan mengekpresikannya ke dalam bentuk lukisan, tarian, musik, apapun. Begitulah seniman tradisional, mereka mencoba untuk menggapai arketip, dan kemudian berusaha membawa arketip itu kepada kita dalam bentuk seni.
Peraturan tradisional, ia tasyri’I atau takwini? Takwini. Batu itu keras dan memang harus keras. Peraturan tradisional itu takwini bukan tasyri’I, tetapi karena kita bekerja di dalam framework tradisi, pasti syari’at pun terlibat juga. Itu sudah kita bahas kan..? jadi tidak berarti kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan. Karena kita bekerja dalam framwork tradisi, dan karena kita muslim maka kita bekerja dalam framework Islam. Framework itu memberi kita parameter atau batasannya.
Pakaian tradisional, sama seperti seni tradisional, akan berupaya untuk memperbarui bentuk-tampilan, walau esensi dan ruh batinnya tidak akan pernah berubah.
Memperbarui: ini sebenarnya adalah satu prinsip dalam tasawuf, bahwa setiap tajalli atau manifestasi itu adalah baru. Tidak pernah ada tajalli yang lama. Perpetual manifestation, perpetual creation, semuanya baru. Ini juga sudah pernah dibahas.
Ketika mental-modern menciptakan sesuatu yang baru, misalnya pakaian baru, latest edition. Nah, baru di dunia modern itu tidak sama dengan baru di dalam tasawuf, karena di dalam tasawuf substansinya tetap sama, hanya formanya saja yang berubah terus menerus.
Sebenarnya, pakaian modern yang kita lihat di zaman ini melambangkan keberpalingan dari batin kontemplatif manusia. Pakaian tersebut juga cenderung mengarah kepada eksternalitas dan lahiriyah dunia kontemporer, yang sangat mengganggu titik fokus.
Pakaian modern adalah produk dari kesadaran yang terputus dari batin, keluar dan berpencar pada wilayah eksternal. Dunia luar ini mengganggu kefokusan dimensi internal yang manunggal, fokus. Ketika keluar, ia berpencar, kesadaran terfragmentasi dan terpecah sehingga tidak fokus lagi. Kalau ke dalam, kesadaran kita semakin terpadu.  Ini bukan bearti kita mengabaikan keragaman, justru dengan ke dalam kita sedang mengintegrasikan keragaman.
Perubahan dalam gaya pakaian terjadi sejajar dengan perubahan dalam gaya arsitektur pada abad keduapuluh, sebelum munculnya bangunan-bangunan tinggi yang mencakar langit.
Pada saat itu, bangunan di Eropa sudah tinggi-tinggi, sedangkan di Timur Tengah masih sama. Arsitektur Islami masih diterapkan. Perubahan di dunia Eropa terjadi karena badai modern, yang diawali dengan Renassaince (sebenarnya benih-benihnya sudah dimulai sejak abad keempatbelas), terlebih dahulu melanda dunia Eropa. Setiap orang menginginkan membuat bangunan yang tinggi-tinggi semisal Empire State building, Twin Tower di Kuala Lumpur, Gedung Bank Indonesia di Indonesia. Ini karakter modern yang tidak sakral. Dalam hadits Nabi pernah bilang, “tanda-tanda akhir kiamat itu ketika bangunan tinggi-tinggi”.
Sementara arsitektur tradisional Islami diterapkan; rumah-rumah dibangun dikelilingi taman, menghadap ke dalam dan terbuka mengarah ke langit. Hakikat tersembunyi arsitektur ini  adalah melindungi rumah dari segala gangguan eksternal.
Begini kira-kira gambar rumah tradisional yang memiliki karakter Islami.


[27:32] pakaian modern, jeans, ketidakrapihan.

[15:27] picture



[1] Misal: aku berteman dengan orang ini lillahi ta’ala, aku menikah dengan si fulan lillahi ta’ala. Lillahi ta’ala ini bahasa awam. Bagi mereka yang sadar atau yang berada dalam perjalanan spiritual, mereka menjadikan Tuhan sebagai pusat, bukan sekadar lillahi ta’ala, tetapi Tuhan sebagai pusat segalanya. Maka ketika berpakaian pun, Tuhan harus menjadi pusat.
Share this article :

0 comments:

Post a Comment

Filsafat
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Pondok Test Test - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Free Coupons